Rabu, 02 Januari 2019

Membantu Korban Bencana = Membantu Diri Sendiri

Membantu korban bencana membutuhkan waktu, tenaga dan perhatian yang tidak mudah. Makanya tidak semua orang tergerak membantu meringankan mereka yang terkena musibah. Padahal, membantu mereka yang terkena musibah bencana sama saja menolong diri kita sendiri. 

Pertama. Dengan mengumpulkan dana (shodaqoh atau infaq) dari kaum muslimin bisa meredam murka Allah SWT (sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis), sehingga musibah yang lebih besar dimungkinkan tidak terjadi dan tidak menimpa diri kita.

Sabtu, 29 Desember 2018

Buku Khalifah Karangan K.H Moenawar Khalil + Download

Download - Buku Khalifah Moenawar Khalil
Khalifah (Kepala Negara) Sepanjang Pimpinan Qur-an dan Sunnah adalah salah satu buku karangan ulama Tanah Air, K.H. Moenawar Khalil. Dengan cetakan tahun 1984, buku tersebut sudah sulit untuk dicari. Artikel dibuat untuk memberikan gambaran seputar buku tersebut, sekaligus memberikan link download scan buku yang pernah saya dapatkan dari seorang kawan.

Latar belakang penulisan buku tersebut bisa kita baca pada sampul belakang buku yaitu dilandasi keprihatinan penulis atas problmatikan yang dialami oleh umat Islam yang beliau bahasakan "krisisnya keadaan ummat Islam sekarang". K.H Moenawar Khalil  menyatakan, "Saat krisisnya keadaan ummat Islam sekarang! Ada faktor yang belum terpenuhi dalam merealisir missi da'wah, Khalifah salah satu yang fondamen sebagai penunjangnya"

Dan krisis ummat islam masih kita jumpai dalam kondisi saat ini. maka buku tersebut meski ditulis pada tahun 1980-an masih relevan untuk kita baca.

Menurut K.H Moenawar Khalil,
Mendirikan Khalifah adalah wajib
Di dalam buku tersebut dibahas beberapa hal:
  • Arti Khalifah menurut logat dan istilah,
  • Arti Khalifah dalam al-Quran,
  • Penjelasan singkat arti kata khalifah,
  • Kata Khalifah dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW,
  • Ta'rif khilafah dan khalifah
  • Kepentingan Khalifah dalam Islam,
  • Hukum Mendirikan Khilafah dan mengangkat khalifah,
  • Orang yang Berhak diangkat menjadi khalifah,
  • Khalifah harus dari keturunan Quraisy,
  • Apakah Khalifah harus orang yang ma'shum
  • Cara Mengangkat Khalifah
  • Perbedaan antara khalifah dan sultan
Tertarik untuk membaca buku tersebut? Silahkan DOWNLOAD DI SINI

Profil Singkat K.H Moenawar Khalil

Disarikan dari safinah.id berikut ini adalah profil singkat dari Kyai Haji Moenawar Chalil. Beliau adalah seorang ulama mumpuni berpaham reformis yang gencar menyebarkan pemahaman “kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah” dan memerangi bid’ah, pemerhati kajian-kajian tafsir, hadits, dan fiqih, penulis buku-buku bermutu, dan tokoh langka yang pernah menduduki jabatan penting di dua organisasi reformis terbesar saat itu : Muhammadiyah dan Persatuan Islam

Ulama bernama lengkap Moenawar Chalil bin Muhammad Chalil ini dilahirkan pada bulan Februari tahun 1908 di Kendal, Jawa Tengah. Ayahnya, KH. Muhammad Chalil, adalah seorang pedagang, hartawan, dan seorang kyai. Pada tahun 1934 – 1935, Moenawar Chalil menjabat Pimpinan Redaksi majalah Swara Islam Semarang. Pada tahun 1941, Beliau diangkat menjadi Sekretaris Lajnah Ahli-Ahli Hadits Indonesia sejak Juni 1941 hingga wafatnya. 

Karya Ilmiah K.H Moenawar Chalil

K.H Moenawar Chalil adalah ulama sekaligus penulis yang produktif. Berikut ini adalah karya-karya beliau yang bersumber dari safinah.id:
  1. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam”. Sebuah karya monumental tentang sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. 
  2. Kembali Kepada Al Qur’an dan As Sunnah”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Kitab inilah yang memaparkan pandangan Moenawar Chalil tentang kewajiban berpegang teguh terhadap sunnah dan menghindari bid’ah. 
  3. Definisi dan Sendi Agama”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  4. Nilai dan Hikmat Puasa”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  5. Funksi Ulama dalam Masyarakat dan Negara”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  6. Kepala Negara dan Permusyawaratan Rakyat Menurut Ajaran Islam”, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo. Kitab ini merupakan gabungan dari 2 kitab kecil Beliau, yakni “Chalifah Sepanjang Pimpinan Qur’an dan Sunnah” yang ditulis pada tahun 1957 dan buku “Adakah Ulil Amri di Indonesia” yang ditulis pada tahun 1958. 
  7. Riwayat Sayidah Chodijah dan Sayidah Aisyah Permaisuri Nabi Muhammad SAW”, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo. Kitab ini merupakan gabungan dari 2 buku, yakni “Riwayat Sayidah Chodijah” dan buku “Riwayat Sayidah Aisyah” yang keduanya ditulis pada tahun 1953. 
  8. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Seperti terlihat dalam judulnya, kitab ini berisi biografi empat Imam Madzhab. 
  9. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Kitab ini selesai ditulis dan direvisi pada tahun 1959. 
  10. Nilai Wanita”, diterbitkan oleh Al Ma’arif Bandung. Kitab ini berisi pembahasan tentang seluk beluk wanita dalam sudut pandang Islam dan diberi kata pengantar oleh M. Isa Anshary dari Persatuan Islam. Kitab ini juga memuat beberapa tanggapan atas buku Presiden RI pertama Soekarno yang berjudul Sarinah. 
  11. Al Qur’an dari Masa ke Masa”, diterbitkan oleh J. B. Wolters dan kemudian oleh Ramadhani. Kitab ini diberi kata pengantar oleh M. Natsir dan secara umum berisi sejarah Al Qur’an dari masa ke masa. 
  12. Terjemahan dan komentar atas buku “Mengapa Kaum Muslimin Mundur” karya Al Amir Syakib Arsalan, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  13. Al Mukhtarul Ahadits “Himpunan Hadits-Hadits Pilihan”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Karya ini merupakan perwujudan keinginan Moenawar Chalil untuk menulis kitab Fiqih berdasarkan madzhab Ahlul Hadits. 
  14. Tafsir Quran “Hidaajatur Rahmaan”, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo dalam bahasa Jawa huruf latin. Kitab ini hanya terbit satu jilid saja (sampai dengan selesai tafsir Juz 1). Moenawar Chalil tidak sempat menyelasaikan kitab ini.
  15. Chutbah Nikah, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo. Kitab tipis ini berisi beberapa contoh teks khutbah pernikahan. 
  16. Al Fiqhun Nabawy : Fiqh Berdasar atas Pimpinan Nabi SAW”. 
Demikian, semoga bermanfaat.

Mabsus Abu Fatih


Sabtu, 22 Desember 2018

Video : Aksi Bela Uighur 21-12-2018 di Jakarta


Kalau Bukan Khilafah, Terus Siapa yang Bisa Membela Kaum Muslimin?

Umat Islam kembali disadarkan. Untuk kesekian kalinya. Bahwa dirinya belum memiliki Izzah yang semestinya. Izzah yang sempurna. Bagaimana mungkin memiliki Izzah yang sempurna sementara di bagian penjuru dunia ini, jutaan hamba Allah, jutaan umat Muhammad, mengalami penindasan tanpa ada yang bisa membela. Mereka adalah muslim Uighur yang ditindas oleh Teroris China.

Bahkan di negeri yang mayoritas muslim ini, penguasa yang katanya dipilih oleh rakyat yang notabene adalah muslim, hanya berdiam diri membatu tanpa memberi respon yang mencerminkan dirinya adalah seorang muslim. Muslim yang memiliki ukhuwah sebagai wujud dari Aqidah yang diyakini.

Berharap kepada PBB jelas omong kosong. OKI juga bukanlah sebuah institusi yang mampu mencegah penindasan kaum muslimin.

Jika bukan khilafah Rasyidah Islamiyyah, lantas apa lagi yang bisa membebaskan penindasan kaum muslimin di Uighur dan juga di negeri-negeri lainnya yang terzalimi?!

Mabsus Abu Fatih

Berikut ringkasan video Aksi Bela Uighur pada 21 Desember 2018 di Jakarta





Jumat, 21 Desember 2018

Doa Berlindung dari Kaum Dzalim

Dunia ini tidak akan pernah sepi dari yang namanya orang zalim. Ada kalanya mereka melakukan kezaliman secara sendirian. Ada kalanya secara berkelompok, baik kelompok kecil maupun besar. Bahkan bisa jadi kezaliman tersebut dilakukan oleh sebuah institusi negara. Penjajahan atas negara lain, penindasan rakyat oleh negara yang dipimpin oleh rezim diktator dan represif misalnya adalah contoh dari sebuah kezaliman yang dilakukan oleh negara. Sejarah telah mencatat kisah-kisah orang-orang zalim tersebut. Dan bisa jadi, lembaran sejarah tersebut bisa berulang di kemudian hari dan menimpa diri kita.

Kamis, 20 Desember 2018

Khutbah Jum'at : PEDULI DENGAN SESAMA MUSLIM

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،
 اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
[Surat Al-Baqarah 217]


Ikhwani fiddin a’azzaniyallahu waiyyakum,

Bertakwalah kepada Allah SWT. Penuhi seluruh perintah-Nya. Jauhi segala larangan-Nya. Hanya dengan itu, kita mendapat predikat takwa.

Salah satu karakter orang yang bertakwa adalah peduli kepada sesama Muslim. Mengapa? Karena sesama Muslim adalah bersaudara, meski mereka berada di tempat/wilayah yang berbeda. Ia tak rela saudaranya hidup menderita, sengsara, atau dalam kezaliman pihak lain.

Begitu kuatnya persaudaraan dalam Islam itu sampai-sampai Nabi SAW menggambarkan hubungan sesama Muslim itu sangat dekat. Sabda Nabi:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan seorang Mukmin (dengan Mukmin lainnya) dalam hal cinta kasih dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila (ada) salah satu bagian tubuhnya menderita (sakit), maka (akan dirasakan) oleh seluruh bagian tubuh lainnya dengan panas dan demam. (HR Bukhari dan Muslim).

Wajar bila ada kaum Muslim yang disakiti, maka Muslim lainnya akan ikut membantu dan membelanya. Apalagi jika sampai kaum Muslim dihinakan harga dirinya oleh orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang sedang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan Allah Maha Kuasa menolong mereka. (QS Al Hajj: 39).

Sidang jumah rahimakumullah

Maka kalau hari ini kita mendengar penderitaan Muslim etnis Uighur di Xinjiang, Cina, kita patut merasakan derita mereka. Laporan PBB terakhir mengungkapkan, sekitar dua juta warga Muslim Uighur dipaksa menjalani indoktrinasi di sejumlah kamp-kamp konsentrasi di wilayah otonomi Xinjiang. Kaum Muslim dicuci otaknya dan dipaksa menerima ajaran komunisme.

Saudara-saudara kita itu kerap mendapat perlakuan tak masuk akal seperti: dilarang puasa saat Ramadhan, dilarang menggelar pengajian hingga dilarang salat berjamaah. Laki-laki yang berjenggot dan wanita berhijab dicurigai. Rezim komunis memaksa para pedagang Muslim menjual alkohol. Muslim dilarang menggunakan nama berbau Islam. Dan yang lebih parah, rezim anti agama ini telah menutup banyak sekali masjid.

Sidang jumah rahimakumullah

Kebencian kaum kafir terhadap kaum Muslim adalah nyata. Mereka tidak senang kepada Islam. Mereka memusuhi agama ini. Dan inilah yang diberitahukan oleh Allah kepada kita melalui firman-nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Sungguh kamu akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah kaum Yahudi dan orang-orang musyrik (TQS al-Maidah [5]: 82).

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
Mereka (kaum kafir) tidak pernah berhenti memerangi kalian (kaum Muslim) sampai mereka bisa mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) andai saja mereka sanggup (TQS al-Baqarah [2]: 217).

Demikianlah kebencian dan permusuhan kaum kafir dan musyrik terhadap kaum Muslim. Karena itu aneh jika ada kaum Muslim yang masih berharap belas kasihan mereka.

Sidang jumah rahimakumullah,

Muncul pertanyaan, lalu apa yang bisa kita perbuat terhadap saudara kita Muslim Uighur saat ini? Kita wajib memberikan pertolongan kepada mereka. Allah SWT berfirman:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Uighur, sebagaimana juga Muslim Rohingya, Muslim Palestina, Muslim Suriah, dan lainnya telah lama menjerit meminta tolong kepada kaum Muslim. Mereka ingin diselamatkan. Karena itu wajib atas kaum Muslim sedunia, termasuk Pemerintah dan rakyat Indonesia, melindungi mereka; memelihara keimanan dan keislaman mereka; sekaligus mencegah mereka dari kekufuran yang dipaksakan kepada mereka.

Namun sayang, saat ini tak ada seorang pemimpin Muslim pun yang mau dan berani mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan mereka. Sungguh tak ada yang memedulikan mereka. Termasuk penguasa negeri ini, yang penduduk Muslimnya terbesar di dunia. Jangankan memberikan pertolongan secara riil, bahkan sekadar kecaman pun tak terdengar.

Kenyataan ini makin meneguhkan kesimpulan tentang betapa butuhnya umat terhadap kepemimpinan kaum Muslim, yang melindungi kaum Muslim seluruh dunia dan menjadi benteng aqidah dan diri mereka.

Kepada siapa lagi sekarang umat Islam mengadu dan minta perlindungan? Sementara kekuasaan Islam, yang dalam syariah disebut khilafah, tidak ada. Padahal kata Nabi SAW:

وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia (HR al-Bukhari dan Muslim).

Umat Islam tak bisa berharap banyak kepada para pemimpin Muslim saat ini. Khilafahlah satu-satunya harapan. Sebab Khilafahlah pelindung sejati umat sekaligus penjaga agama, kehormatan, darah dan harta mereka. Khilafah pula yang bakal menjadi penjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan setiap jengkal wilayah mereka.

Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum Muslim berjuang bersama-sama mewujudkan kembali kewajiban syariah dalam pemerintahan yakni khilafah. Sudah saatnya khilafah hadir kembali. Saatnya Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang kedua ditegakkan di muka bumi ini.

Semoga Allah SWT segera menolong kita semua. Aamiin

[]
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم



Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ المسبحة بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ 
 وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ الله اكبر

Sumber : SeruanMasjid.com
KHUTBAH jumat


Minggu, 16 Desember 2018

AKAN TIBA MASANYA

Akan tiba masanya pemilik foto ini
Tak bisa lagi bersosial media
Bukan karena tiadanya pulsa
Tapi karena tiadanya lagi usia

Setiap insan pastilah mati
Sebagaimana yang lain juga mati
Meski tak siap diri, meski tak mau diri
Ajal tak pernah kompromi, tak pernah peduli

Saat masa itu  tiba, ada yang berduka,
Sanak saudara, rekan seperjuangan jua,
Teringat segala kenangan
Dalam suka dalam duka

Usia ada batasnya,
kenangan pun ada batasnya
Saat kita tutup usia, semua ingat
Semua berkirim simpati, semua merangkai doa

Seiring berjalan waktu dan masa
Doa simpati tak ada lagi untuk kita
Kita dilupa kawan dilupa saudara
Karena kenangan ada batasnya

Doa anak bisa kita diharap
Jika ia menjadi anak yang sholeh
Menjadi anak yang ingat dengan orang tua
Jika tidak, doa siapa lagi yang diharap

Anak pun akan tiada sebagai mana kita
Bersama menghadap sang maha
Mempertanggungjawabkan segala amal dan dosa
Entah Syurga atau neraka, bergantung amal kita

Tangerang, 16 Desember 2018

Dari yang akan tiada,

Mabsus abu Fatih

Sumber : Status Facebook