Senin, 25 Maret 2019

EVALUASI MERANTAU

Di bawah ini adalah Syair tentang merantau yang bersumber pada Diwan al-Imam asy-Syafii.

Pertimbangan merantau menurut beliau bukan untuk sekedar mencari nafkah atau mengumpulkan harta. Melainkan untuk meningkatkan ilmu, adab dan kemampuan dan nilai diri.

Jika suatu saat kita harus kembali ke kampung halaman, sejauh mana perkembangan ilmu, adab, kemampuan diri dan nilai diri kita? Ataukah sekedar pertambahan harta semata? Sementar ilmu, adab dan kemampuan diri nyaris tidak ada beda dibandingkan sebelum merantau. Jika demikian sepertinya kita gagal dalam perantauan ini.

Masih ada kesempatan agar kita menjadi perantau yang berhasil. Mari saling mendoakan. Mari saling bantu. Semoga.

Berikut syair Imam Syafi'i yang dimaksud

مَا فِي المُقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ                                مِنْ رَاحَةٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّنْ تُفَارِقُهُ                            وَانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءَ يُفْسِدُهُ                             إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

وَالأُسْدُ لَوْلَا فِرَاقُ الأَرْضِ مَا افْتَرَسَتْ                     وَالسَّهْمُ لَوْلَا فِرَاقُ القَوْسِ لَمْ يُصِبْ

وَالشَّمْسُ لَوْ وَقَفَتْ فِي الفُلْكِ دَائِمَةً                      لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

وَالتُرْبُ كَالتُرْبِ مُلْقًى فِي أَمَاكِنِهِ                         وَالعُوْدُ فِي أَرْضِهِ نَوْعٌ مِنْ الحَطَبِ

فَإِنْ تَغَرَّبَ هَذَا عَزَّ مَطْلُبُهُ                                        وَإِنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كَالذَّهَبِ

#-Merantaulah…-

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).#

#Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.#

#Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.#

#Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.#

#Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.#

#Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.#

#Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.#

———————————————————————————————-
Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)
———————————————————————————————-

Sumber: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39 sebagai mana dikutip kisahmuslim.com

Selasa, 12 Maret 2019

HUKUM JUAL BELI KURMA SECARA ONLINE

OLEH : KH. M. SHIDDIQ AL JAWI

Tanya :
Ustadz, bolehkah jual beli kurma secara online? (Mabsus, Tangerang).

Jawab :

Hukum asalnya haram menjual belikan kurma secara online. Karena jual beli online tidak memungkinkan terjadinya serah terima dengan segera (at taqaabudh al fauri) di majelis akad yang dipersyaratkan untuk jual beli barang-berang ribawi (emas, perak, gandum, jewawut, kurma, dan garam).

Rabu, 02 Januari 2019

Membantu Korban Bencana = Membantu Diri Sendiri

Membantu korban bencana membutuhkan waktu, tenaga dan perhatian yang tidak mudah. Makanya tidak semua orang tergerak membantu meringankan mereka yang terkena musibah. Padahal, membantu mereka yang terkena musibah bencana sama saja menolong diri kita sendiri. 

Pertama. Dengan mengumpulkan dana (shodaqoh atau infaq) dari kaum muslimin bisa meredam murka Allah SWT (sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis), sehingga musibah yang lebih besar dimungkinkan tidak terjadi dan tidak menimpa diri kita.

Sabtu, 29 Desember 2018

Buku Khalifah Karangan K.H Moenawar Khalil + Download

Download - Buku Khalifah Moenawar Khalil
Khalifah (Kepala Negara) Sepanjang Pimpinan Qur-an dan Sunnah adalah salah satu buku karangan ulama Tanah Air, K.H. Moenawar Khalil. Dengan cetakan tahun 1984, buku tersebut sudah sulit untuk dicari. Artikel dibuat untuk memberikan gambaran seputar buku tersebut, sekaligus memberikan link download scan buku yang pernah saya dapatkan dari seorang kawan.

Latar belakang penulisan buku tersebut bisa kita baca pada sampul belakang buku yaitu dilandasi keprihatinan penulis atas problmatikan yang dialami oleh umat Islam yang beliau bahasakan "krisisnya keadaan ummat Islam sekarang". K.H Moenawar Khalil  menyatakan, "Saat krisisnya keadaan ummat Islam sekarang! Ada faktor yang belum terpenuhi dalam merealisir missi da'wah, Khalifah salah satu yang fondamen sebagai penunjangnya"

Dan krisis ummat islam masih kita jumpai dalam kondisi saat ini. maka buku tersebut meski ditulis pada tahun 1980-an masih relevan untuk kita baca.

Menurut K.H Moenawar Khalil,
Mendirikan Khalifah adalah wajib
Di dalam buku tersebut dibahas beberapa hal:
  • Arti Khalifah menurut logat dan istilah,
  • Arti Khalifah dalam al-Quran,
  • Penjelasan singkat arti kata khalifah,
  • Kata Khalifah dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW,
  • Ta'rif khilafah dan khalifah
  • Kepentingan Khalifah dalam Islam,
  • Hukum Mendirikan Khilafah dan mengangkat khalifah,
  • Orang yang Berhak diangkat menjadi khalifah,
  • Khalifah harus dari keturunan Quraisy,
  • Apakah Khalifah harus orang yang ma'shum
  • Cara Mengangkat Khalifah
  • Perbedaan antara khalifah dan sultan
Tertarik untuk membaca buku tersebut? Silahkan DOWNLOAD DI SINI

Profil Singkat K.H Moenawar Khalil

Disarikan dari safinah.id berikut ini adalah profil singkat dari Kyai Haji Moenawar Chalil. Beliau adalah seorang ulama mumpuni berpaham reformis yang gencar menyebarkan pemahaman “kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah” dan memerangi bid’ah, pemerhati kajian-kajian tafsir, hadits, dan fiqih, penulis buku-buku bermutu, dan tokoh langka yang pernah menduduki jabatan penting di dua organisasi reformis terbesar saat itu : Muhammadiyah dan Persatuan Islam

Ulama bernama lengkap Moenawar Chalil bin Muhammad Chalil ini dilahirkan pada bulan Februari tahun 1908 di Kendal, Jawa Tengah. Ayahnya, KH. Muhammad Chalil, adalah seorang pedagang, hartawan, dan seorang kyai. Pada tahun 1934 – 1935, Moenawar Chalil menjabat Pimpinan Redaksi majalah Swara Islam Semarang. Pada tahun 1941, Beliau diangkat menjadi Sekretaris Lajnah Ahli-Ahli Hadits Indonesia sejak Juni 1941 hingga wafatnya. 

Karya Ilmiah K.H Moenawar Chalil

K.H Moenawar Chalil adalah ulama sekaligus penulis yang produktif. Berikut ini adalah karya-karya beliau yang bersumber dari safinah.id:
  1. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam”. Sebuah karya monumental tentang sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. 
  2. Kembali Kepada Al Qur’an dan As Sunnah”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Kitab inilah yang memaparkan pandangan Moenawar Chalil tentang kewajiban berpegang teguh terhadap sunnah dan menghindari bid’ah. 
  3. Definisi dan Sendi Agama”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  4. Nilai dan Hikmat Puasa”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  5. Funksi Ulama dalam Masyarakat dan Negara”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  6. Kepala Negara dan Permusyawaratan Rakyat Menurut Ajaran Islam”, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo. Kitab ini merupakan gabungan dari 2 kitab kecil Beliau, yakni “Chalifah Sepanjang Pimpinan Qur’an dan Sunnah” yang ditulis pada tahun 1957 dan buku “Adakah Ulil Amri di Indonesia” yang ditulis pada tahun 1958. 
  7. Riwayat Sayidah Chodijah dan Sayidah Aisyah Permaisuri Nabi Muhammad SAW”, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo. Kitab ini merupakan gabungan dari 2 buku, yakni “Riwayat Sayidah Chodijah” dan buku “Riwayat Sayidah Aisyah” yang keduanya ditulis pada tahun 1953. 
  8. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Seperti terlihat dalam judulnya, kitab ini berisi biografi empat Imam Madzhab. 
  9. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Kitab ini selesai ditulis dan direvisi pada tahun 1959. 
  10. Nilai Wanita”, diterbitkan oleh Al Ma’arif Bandung. Kitab ini berisi pembahasan tentang seluk beluk wanita dalam sudut pandang Islam dan diberi kata pengantar oleh M. Isa Anshary dari Persatuan Islam. Kitab ini juga memuat beberapa tanggapan atas buku Presiden RI pertama Soekarno yang berjudul Sarinah. 
  11. Al Qur’an dari Masa ke Masa”, diterbitkan oleh J. B. Wolters dan kemudian oleh Ramadhani. Kitab ini diberi kata pengantar oleh M. Natsir dan secara umum berisi sejarah Al Qur’an dari masa ke masa. 
  12. Terjemahan dan komentar atas buku “Mengapa Kaum Muslimin Mundur” karya Al Amir Syakib Arsalan, diterbitkan oleh Bulan Bintang. 
  13. Al Mukhtarul Ahadits “Himpunan Hadits-Hadits Pilihan”, diterbitkan oleh Bulan Bintang. Karya ini merupakan perwujudan keinginan Moenawar Chalil untuk menulis kitab Fiqih berdasarkan madzhab Ahlul Hadits. 
  14. Tafsir Quran “Hidaajatur Rahmaan”, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo dalam bahasa Jawa huruf latin. Kitab ini hanya terbit satu jilid saja (sampai dengan selesai tafsir Juz 1). Moenawar Chalil tidak sempat menyelasaikan kitab ini.
  15. Chutbah Nikah, diterbitkan oleh A. B. Sitti Sjamsijah Solo. Kitab tipis ini berisi beberapa contoh teks khutbah pernikahan. 
  16. Al Fiqhun Nabawy : Fiqh Berdasar atas Pimpinan Nabi SAW”. 
Demikian, semoga bermanfaat.

Mabsus Abu Fatih


Sabtu, 22 Desember 2018

Video : Aksi Bela Uighur 21-12-2018 di Jakarta


Kalau Bukan Khilafah, Terus Siapa yang Bisa Membela Kaum Muslimin?

Umat Islam kembali disadarkan. Untuk kesekian kalinya. Bahwa dirinya belum memiliki Izzah yang semestinya. Izzah yang sempurna. Bagaimana mungkin memiliki Izzah yang sempurna sementara di bagian penjuru dunia ini, jutaan hamba Allah, jutaan umat Muhammad, mengalami penindasan tanpa ada yang bisa membela. Mereka adalah muslim Uighur yang ditindas oleh Teroris China.

Bahkan di negeri yang mayoritas muslim ini, penguasa yang katanya dipilih oleh rakyat yang notabene adalah muslim, hanya berdiam diri membatu tanpa memberi respon yang mencerminkan dirinya adalah seorang muslim. Muslim yang memiliki ukhuwah sebagai wujud dari Aqidah yang diyakini.

Berharap kepada PBB jelas omong kosong. OKI juga bukanlah sebuah institusi yang mampu mencegah penindasan kaum muslimin.

Jika bukan khilafah Rasyidah Islamiyyah, lantas apa lagi yang bisa membebaskan penindasan kaum muslimin di Uighur dan juga di negeri-negeri lainnya yang terzalimi?!

Mabsus Abu Fatih

Berikut ringkasan video Aksi Bela Uighur pada 21 Desember 2018 di Jakarta





Jumat, 21 Desember 2018

Doa Berlindung dari Kaum Dzalim

Dunia ini tidak akan pernah sepi dari yang namanya orang zalim. Ada kalanya mereka melakukan kezaliman secara sendirian. Ada kalanya secara berkelompok, baik kelompok kecil maupun besar. Bahkan bisa jadi kezaliman tersebut dilakukan oleh sebuah institusi negara. Penjajahan atas negara lain, penindasan rakyat oleh negara yang dipimpin oleh rezim diktator dan represif misalnya adalah contoh dari sebuah kezaliman yang dilakukan oleh negara. Sejarah telah mencatat kisah-kisah orang-orang zalim tersebut. Dan bisa jadi, lembaran sejarah tersebut bisa berulang di kemudian hari dan menimpa diri kita.