Sabtu, 25 Juni 2016

Kisah Inilah Suami Bercahaya

Ilustrasi Mubarak 
Namanya adalah Nuh bin Maryam. Ia adalah seorang gubernur sekaligus qadhi (hakim) di sebuah kota Islam bernama Marwa. Seperi layaknya seorang pejabat, Nuh bin Maryam hidup dalam keberlimpahan harta. Kenikmatan itu semakin lengkap dengan hadirnya seorang putri yang terkenal dengan kecantikannya yang luar biasa. Satu demi satu para pembesar datang untuk mempersuntingnya, namun tak seorang pun yang berkenan di hati.

Di istana tempatnya tinggal, sang gubernur memiliki seorang budak yang berasal dari India. Budak itu berkulit gelap, namun sangat taat beribadah. Budak India itu bernama Mubarak. Dan karena sang gubernur memiliki sebidang kebun yang cukup luas, ia menyerahkan urusan kebun itu kepada sang budak. “Pergi dan jagalah kebun itu baik-baik!” ujarnya.


Tidak terasa, sebulan berlalu. Dan di suatu pagi yang cerah, sang gubernur mengunjungi kebuh yang dijaga oleh Mubarak itu. Di sana, sang gubernur tergiur melihat buah anggur yang segar bergelantungan di pohonnya.

Mubarak, ambilkan untukku setangkai anggur dari pohon itu!" Titahnya.
Si Budak lalu memetik setangkai anggur dan menyodorkan kepada sang gubernur. Ternyata anggur itu terlalu masam rasanya. “Coba berikan satu tangkai lagi untukku, Mubarak!” perintah Gubernur.

Mubaraka, budak itu kemudian menyodorkan setangkai yang lain kepada sang gubernur. Namun lagi-lai setelah Gubernur mencobanya, ternyata rasanaya sama saja dengan tangkai yang pertama.

Gubernur mulai  kesal. “Mengapa di antara sekian banyak anggur yang menghampar ini, engkalu selalu mengambilkan yang masam untukku??"Tanyanya.

Karena hamba tidak tahu mana yang masam dan mana yang manis, Tuan.” Jawab Mubarak.

Subhanallah!! Bagaimana bisa? Engkau telah tinggal di sini selama sebulan lamanya, tapi engkau mengatakan bahwa engkau sama sekali tidak mengetahui mana yang masam dan mana yang manis?! Ujanr sang gubernur penuh keheranan.

“Anda benar, Tuan. Itu semua karena hambat tak pernah sekalipun mencicipinya, maka hamba tidak tahu mana yang manis dan mana yang masam, Tuan,” jawab Mubarak.
“Mengapa engkau tidak mencicipnya?!” tanya Gubernur semakin heran.

“Sebab Tuan anya menyuruhku menjaganya, dan tidak menyuruhku untuk mencicipinya. Dan kau tidak mungkin menghianati perintah Tuan,” jawab Mubarak dengan tenang.

Mendengar kata-kata yang terakhir, sang gubernur sadar bahwa budak itu pria yang sangat cerdas. Setelah cukup lama terdiam, sang gubernur berkata kepada budaknya itu” “Wahai Mubarak, aku punya suatu permintaan kepadamu, dan engkau harus melaksanakan layaknya engkau menjalankan setiap perintahku.”

“Aku akan menaati Allah, lalu setelah itu baru menaati Anda, Tuan...,”jawab Mubarak.

“baiklah, Mubarak. Aku memiliki seorang putri. Entah sudah berapa banyak pria yang datang melamarnya, namun aku bimbang untuk memilih salah satu dari mereka. Tolong berikan aku pandanganmu dalam persoalan ini...,” ujar sang gubernur.

Mubarak, si budak India itu terhenung sejenak. Lalu ia berkata dengan tenang.

“Tuan gubernur, dahulu orang-orang jahiliyah selalu menjadikan gari keturunan, kekayaan dan kedudukan sebagai ukuran. Sementara orang-orang Yahudi menjadikan ketampanan dan kecantikan sebagai ukuran untuk sebuah pernikahan.

Namun ketika Rasulullah SAW hadir ke dunai, orang-orang beriman kemduian menentukan pasangan hidup mereka bedasarkan agama dan ketakwaan. Hingga akhinrya tibalah zaman hari ini, di mana orang-orang menjadikan hata dan kekayaan sebagai ukuran untuk sebuah pernikahan.

Maka, Tuan gubernur, silahkan Anda memilih dengan cara apakah Tuan akan memilihkan pasanganan untuk putri kesayangan Tuan itu. Tuan dapat memilih salah satu dari 4 tolok ukur itu...”

Sungguh dalam. Dan sang gubernur terhenyak dalam diam. Ia termenung. Lalu ia segera sadar dari lamunannya dan berujar: “Mubarak, sudah tentu aku akan memilih berdasarkan agama, ketakwaan dan amanahnya!! Dan aku putuskan untuk memilihmu sebagai pasangan putri kesayanganku karena semua hal itu kutemukan padamu!”

Kini budak India itu yang terhenyak dan terkejut.

“Tapi mengapa saya, Tuan??! Saya ini hanya seorang budak hitam, yang Tuan beli dengan harta Tuan. Mengapa Tuan ingin menikahkan saya dengan putri kesayangan Anda?? Apa mungkin ia akan menerima saya sebagai suaminya??!! Tanyanya benar-benar heran.
Gubernur tidak menggubris keheranannya. “Berdirilah, dan ayo kita segera ke istanaku untuk menyelesaikan urusan ini!”

Sepanjang jalan, Mubarak belum bisa menghapus keterkejutan hatinya. Namun sang Gubernur tak bergeming lagi. Setibanya sang gubernur di istananya, ia segera memanggil istrinya.

“Istriku, aku telah menemukan siapa pria yang akan menjadi pasangan hidup putri kita...,” ujarnya.

“Benarkah, suamiku??” tanya sang istri dengan wajah sumringan senang.
“Benar. Pria itu seorang yang sangat taat beribadah. Sangat takut kepada Allah. Sangat menjaga amanah yang diberikan padanya. Dan aku sungguh menyukai keshalihannya.  Itulah sebabnya, aku ingin segera menikahkannya dengan anak kita....” jelas sang gubernur.
“Siapakah gerangan pria itu, suamiku?” tanya sang istri semakin penasaran.
“Dia adalah Mubarak, istriku...”
“Mubarak? Maksudmu, Mubarak budak penjaga kebuh kita suamiku??”
“Benar, istriku. Bagaimana menurutmu?”

Sang istri terdiam sejenak. Namun tak lama.
“Suamiku, semuanya kuserahkan padamu. Namun izinkanlah aku enyampaikannya terlebih dahulu kepada putri kita,” jawab sang istri.
Dan sungguh di luar dugaan. Ketika hal itu disamapikan kepada sangg putri, tanpa ragu sedikitpun ia menerimanya.

“Apapun yang ayah dan ibu titahkan akan aku jalankan. Aku tidak akan menolaknya, karena aku ingin selalu berbakti kepada ayah dan bunda,” jawab sang putri tanpa ragu.
Maka sempurnalah semuanya. Sang budak India itupun dibebaskan. Dan di hari yang telah ditentukan, Mubarak –sang budak India itu- akhirnya menikahi putri cantik kesayangan gubernur kota Marwa yang kesohor itu.

Dan perjalanan waktu lalu membuktikan bahwa pernikahan itu benar-benar diberkahi Allah. Pernikahan penuh berkah itu melahirkan seorang putra yang luar biasa. Seorang putra yang dikemudian hari dikenal sebagai seorang ulama Hadis besar, ahli ibadah yang zuhud dan mujhaid di jalan Allah. Nama putra mereka yang luar biasa itu adalah Al-Imam ‘Abdullah bin Mubarak. Benar, ia adalah ‘Abdullah putra Mubarak.[] Selesai

Kisah tersebut saya ambil dari artikel berjudul Inilah Suami Bercahaya pada buku “Teladan untuk Ananda” karangan Muhammad Ihsan Zainuddin, tebitan Sukses Publishing. 

Kisah tersebut mengandung beberapa pelajaran yaitu:
1. Anak yang sholeh akan terlahir dari orang tua yang sholeh. Kesolehan Abdullah bin Mubarok, seorang ulama besar ahli hadis ternyata diawali dari orang tua yang juga sholeh.
2. Ilmu akan mengangkat derajat seseorang. Lihatlah bagaimana sang budak, Mubarak yang kemudian menjadi tempat bertanya sang gubernur setelah diketahui keilmuan dan kecerdasan sang budak.

Namun, sayangnya sang penulis buku "Telada untuk Ananda" lupa mencantumkan sumber utama, dari mana tulisan tersebut berasal. Sang penulis juga lupa untuk mencantumkan daftar pustaka sehingga cerita tersebut kurang kuat sandarannya, meski tetap ada kemungkinan benar adanya. Allahua'alam bishowab.

Semoga bermanfaat,
Sabtu, 20 Romadhon 1437 H / 25 Juni 2016


Mabsus Abu Fatih

Beginilah Bakti Rosulullah Kepada Orang Tua

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam adalah suri teladan yang baik bagi kaum Muslimin dalam segala hal sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur’an: 
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS al-Ahzab [33]:21.)
Beliau bisa dijadikan sebagai teladan yang baik bagi seorang pendidik, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi seorang pemimpin, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi pemimpin pasukan perang, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi kepala rumah tangga, beliau bisa juga dijadikan teladan yang baik bagi seorang majikan, bahkan bisa juga dijadikan teladan bagi seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya.

Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam ditinggal wafat Ibudanya, Aminah pada usia 6 tahun[1] sementara ayahnya, Abdullah wafat ketika Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallammasih di dalam kandungan Ibunya, Aminah. [2]. Namun, kita tetap bisa mengetahui bakti Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallamterhadap orangtuanya baik orangtua kandung maupun orang tua susuannya. Berikut di antaranya:
Menziarahi makam ibunya, Aminah .
Ibnul Jauzi dalam al-Wafa [3] mengetengahkan hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasannya Rosulullah SAW mengunjungi makan Ibunya. Ini memberikan pelajaran kepada kita yang ingin berbakti kepada kedua orang tua harus sering berziarah ke makam orang tua yang sudah meninggal.
Memuliakan dan memerhatikan nafkah Ibu susuannya, Tsuwaibah.
Wanita yang pertama kali menyusukan Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallamadalah Tsuwaibah [4], budak Abu Lahab, meski hanya dalam beberapa pekan.
Setelah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam menikah dengan Khadijah, Tsuwaibah pernah mengunjungi rumah beliau. Padahal ketika itu, Tsuwaibah masih berstatus sebagai hamba sahaya. Setelah hijrah, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam sering mengirim sandang dan pangan kepada Tsuwaibah sampai akhir hayatnya, yaitu setelah penaklukan kota Khaibar.  Tidak diketahui apakah dia masuk Islam atau belum. Subhanallah, meski hanya beberapa pekan menyusui Rasulullah, namun penghormatan Rosulullah saw. sedemikian rupa. Semestinya kita yang sudah disusui oleh Ibu kita lebih lama dari Tsuwaibah menyusui Rasulullah memulikan orang tua kita sebagaimana Rosulullah contohkan.
Menyelesaikan Persoalan Ekonomi Ibu (susuan)nya, Halimah
Setelah Tsuwaibah, perempuan yang menyusui RosulullahShallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Halimah binti Abu Dzu’aib yang berasal dari kalangan Bani Sa’ad bin Bakar. Diriwayatkan bahwa Halimah mengunjungi NabiShallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah beristrikan Khadijah Radhiallahu ‘Anha. Halimah mengadu kepada Nabi mengenai kekeringan kota dan kematian binatang ternak. Maka Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam membincangkan masalah ini kepada Khadijah. Lalu, Khadijahmemberikan 40 kambing dan 40 unta lengkap dengan pelananya kepada Halimah. Selanjutnya, Halimah mengunjungi beliau lagi setelah Islam tersiar.Ia berserta suaminya masuk Islam dan mereka membaiat Nabi. [5]
Dari Muhammad bin Al-Munkadir, ia berkata, “Seorang wanita mengetuk rumah Rasulullah. Ia pernah menyusukan beliau.  Ketika wanita itu masuk ke dalam rumah, Rasul berseru, “Ibu!Ibu!”Nabi segera mengambil surbannya lalu membentangkannya untuk wanita itu. Maka ia duduk di atas surban tersebut” [6]
Lihatlah bagaimana Rosulullah berusaha menyelesaian persoalan ekonomi Ibu (susuan) beliau?. Riwayat ini sekaligus memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa semestinya sepasang suami istri tidak membedakan mana urusan orang tua dan mana urusan mertua karena pada hakekatnya sama saja.
Semoga kita bisa meniru Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallamdalam berbakti kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita khususnya lagi orang tua. Aamiin.
Tangerang, 21 Ramadhan 1437 H / 25 Juni 2016


Mabsus Abu Fatih


CATATAN KAKI
[1]Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah.Jakarta, Pustaka al-kautsar, 2012.Hal. 48.
[2]Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta, Litera AntarNusa, 2010. Hal. 49
[3]Ibnul Jauzi, Al-Wafa Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW (terj), Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2010.Hal. 96
[4]Lihat al-Wafa hal 83.
[5]Ibnul Jauzi, Al-Wafa Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW (terj), Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2010.Hal. 92
[6]ibid

Motivasi Anak Yatim

Ramadhan hari ke-7 tahun ini, bertepatan dengan tgl 12 Juni 2016 merupakan momentum yang sangat spesial bagi saya. Kenapa? Karena pada tanggal tersebut mendapatkan kehormatan untuk mengisi training motivasi dan muhasabah pada acara "Buka Bersama dan Santunan anak Yatim" yang diselenggarakan oleh rekan-rekan Mahasiswa semester VI, FAI Universitas Muhammadiyah Tangerang. 

Acara bertertempat di Aula Yayasan ar-Riyadul Jannah, Poris Gaga, Kota Tangerang. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat atas amal sholeh panitia dan donatur yang telah menyisihkan hartanya pada agenda tersebut.

Rabu, 22 Juni 2016

Pengakuan Jujur Pemikir Barat tentang Rosulullah SAW

Seorang Filosof Inggris, George Bernard Shaw[1] sebagaimana dikutip oleh  Hisyam Muhammad Sa’id Barghisy[2] dalam bukunya Manusia Teragung Sepanjang Masa Muhammad SAW[3] yang bersumber pada buku Hadharah al-Arab karangan Gustave Le Bon menyatakan, “Aku telah membaca kehidupan Rasul Islam dengan baik, berkali-kali dan berkali-kali, dan aku tidak menemukan kecuali akhlak-akhlak luhur yang semestinya, dan aku sangat berharap Islam menjadi jalan bagi dunia”

Sementara itu, Penyair Perancis yang terkenal, Lamartine, dia berkata, “Peristiwa paling besar yang terjadi dalam hidupku adalah ketika aku mempelajari kehidupan Rasulullah, Muhammad, dan aku mendapatkan di dalamnya (potret) keagungan dan kekekalan” (lihat Buku Manusia Teragung Sepanjang Masa Muhammad SAW hal. 6) 
Jika Filosof dan penyair barat saja sampai berkali-kali membaca sejarah Rosulullah Shallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai umatnya?

[Mabsus Abu Fatih]
---------------------------------------------
[1]George Bernard Shaw, seorang penulis alur cerita film dari Inggris yang terkenal, lahir di Irlandia, meraih nobel di bidang sastra th. 1920 M.
[2]Hisyam Muhammad Sa’id Barghisy, Manusia Teragung Sepanjang Masa Muhammad SAW, Darul Haq, Jakarta, 2013, Hal. 4
[3]Terjemahan dari Buku A’zham Insan arafathu al-Basyariah, akhlaquhu wa kaifa Nuhibbuhu wa Nanshuruhu, Penerbit Madar al-Wathan li an-Nasyr
Gambar : infoyunik.com 

Berbakti Kepada Orang Tua, Penebus Dosa Besar

Dalam mengarungi kehidupan dunia ini, tidak sedikit manusia yang terpeleset ke dalam jurang maksiyat dan lembah dosa. Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ampunan Allah SWT atas dosa yang dilakukan adalah dengan berbuat baik kepada kedua orang tua.
Berikut kutipan pendapat Salafush Sholih yang menyatakan bahwa Birrul Walidain, berbuat baik kepada kedua orang tua, bisa menjadi Kafarat / penebus dosa, bahkan dosa-dosa besar. Kutipan ini saya ambil dari buku Bakti Anak kepada Ibu Bapak karangan Ibrahim bin Abdullah Musa Al Hazimi yang diterbitkan oleh Media Hidayah – Jogjakarta (2005).

Ibnu Abbas pernah ditanya tentang bentuk taubat seseorang yang telah membunuh istrinya. Dia menjawab, “Bila dia mempunyai orang tua, berbuat baiklah kepada keduanya selama mereka masih hidup. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu Allah akan mengampuni dosanya itu” Ibnu Abbas juga pernah ditanya oleh seseorang tentang seorang wanita yang mempelajari ilmu sihir dan dia ingin bertaubat dari perbuatannya itu. Ibnu Abbas memberi solusi yang sama. (Sumber: Kitab Bahjah al Majalis (hal. 785)
Makhul, seorang tabi’in yang mulia, pernah berkata, “Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan kafarat (denda) dari dosa-dosa besar”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia pernah berkata, “Sesungguhnya Allah menghapus hukuman terhadap Sulaiman bin Dawud berkenaan dengan kasus burung hud-hud disebabkan dia berbuat baik kepada Ibunya.” (Sumber: Bahjah Al Majalis karya Ibnu Abdil Barr hlm. 759)
Bahkan ketika ada di antara salafush sholih melakukan kekhilafan terhadap orang tua mereka, maka mereka tebus kesalahan mereka dengan amal yang luar biasa. Apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Aun misalnya. Abu Ishaq Ar Riqqi Al Hanbali, ketika menyebutkan biografi Abdullah bin Aun berkata, “Pernah suatu ketika dia dipanggil oleh ibunya. Tanpa disadari dia mengeraskan suara melebihi suara ibunya. Karena hal tersebut dia membebaskan dua orang budak”. (sumber : Ahsan al Mahasin karya Abu Ishaq (hlm. 348)
Ada juga diantara mereka rahimahullah yang tidak berani makan bersama sang Ibu karena khawatir mendahului makan makanan yang hendak dimakan oleh ibunya.
Adalah Zainal Abidin seseorang yang sangat berbakti kepada Ibunya. Saking berbaktinya, ada orang-orang berkata kepadanya, “Sungguh, kamu adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu. Tetapi, kami tidak pernah melihat kamu makan bersama ibumu dalam satu piring?. Dia menjawab, “Saya khawatir mendahului makan makanan yang hendak dimakan oleh ibu saya. Karena menurut saya itu termasuk tindakan durhaka kepadanya.” (sumber:Muhadarat al Adiba‘ hlm. 327 dan kitab wafayat Al A’yan (III/268).
Demikian semoga bermanfaat. Allahua’lam Bishowab. []Mabsus Abu Fatih

Jumat, 17 Juni 2016

Begini Cara Membangunkan Anak untuk Sholat Subuh

anak-sholeh.com - Bagi orang tua yang ingin memiliki anak sholeh dan sholehah tentu memerhatikan bagaimana sholatnya sang anak. Tidak layak kiranya, anak yang mengabaikan sholat disebut sebagai anak sholeh. Kenapa? Karena sholat merupakan kewajiban yang sangat besar di sisi Allah SWT. Meninggalkan dan mengabaikannya jelas merupakan kemaksiyatan dan kejahatan yang besar di sisi Allah. Namun demikian, membiasakan anak untuk melaksanakan sholat tidaklah semudah membalikkan tangan. Apalagi jika sholat yang dimaksud adalah sholat subuh. Butuh kesabaran dan kesungguhan yang luar biasa. Jangankan anak kecil, yang butuh waktu istirahat lebih, orang dewasa saja tidak sedikit yang sulit untuk bisa bangun pagi guna menjalankan sholat subuh.

Lantas, bagaimana cara membiasakan anak untuk sholat? Sholat Subuh khususnya. Tulisan yang barangkali lebih tepat ditujukan untuk diri saya sendiri ini barangkali bermanfaat untu pembaca yang dimuliakan Allah.

Tips untuk membangungkan anak melaksanakan sholat subuh ini saya dapatkan dalam buku kecil yang berjudul “92 Cara Mudah Membiasakan Anak Sholat” Karangan Hana’ binti Abdul Aziz ash-Shunai’ terbitan Darul Haq. Buku yang sebenarnya sudah lama saya miliki namun tidak sempat dibaca secara utuh. Alhamdulillah buku ini “tiba-tiba” muncul saat membereskan koleksi buku yang saya miliki awal romadhon beberapa hari yang lalu. Inilah tips tersebut:
  • Berbicara dengan lembuat.
  • Menepuk punggung dan mengusap kepala.
  • Sampaikan berita gembira padanya agar mau bangun dan kantuknya hilang, misalnya, “Hari ini fulan akan datang ke....”, “Kamu berhasil dalam...”, “Fulan menghubungimu...”
  • Biarkan anak tidur kembali, kemudian datangi lagi setelah lima menit, tiga menit dan seterusnya bila waktu sholat masih lama.
  • Matikan AC dan nyalakan lampu.
  • Percikan air di mukanya jika diperlukan.
  • Doakan anak Anda dengan mengucapkan , “Bangunlah, semoga Allah melapangkan  dadamu,” dan semisalnya.
  • Tanamkan rasa cinta dan takut, buatlah anak anda ingat pada Allah SWT, misalnya dengan mengatakan, sholat itu cahaya untukmu di kuburmu. “Bangunlah Nak, di akherat nanti hanya ada syurga atau neraka”
  • Tariklah selimutnya dan mulailah menggoyang tubuhnya dengan memanggilnya.
  • Berikan jam weker dengan suara adzan untuk anak-anak anda.
  • Jangan ucapakan, “Bangun, sekolah!”, tapi ucapakan “Bangun, sholat Subuh !”
  • Mesralah dan candailah (secara positif) anak anda di saat membangunkannya untuk sholat, dengan ayat-ayat berkenaan dengan sholat, hadis dan syair. Cara ini sangat ampuh dan mujarab, dengan catatan Anda mengingatkan mereka dengan Ayat-ayat Al-Quran dan hadits dengan khusyu’ dan merenungi maknanya. Artinya keluar dari lubuk hati anda.
  • Disaat membangunkan anak anda, awasi jangan sampai sholat di tempat yang lain.
  • Berikan hadiah khusus bagi anak yang bangun lebih awal.
  • Berikan penghargaan kepada anak-anak yang mngawasi dan membangunkan saudaranya untu sholat.
  • Terakhir, jika cara-cara tersebut melelahkan anda (tidak berhasil), silahkan anda memukul anak-anak anda yang telah mencapai usia 10 tahun. Tentu dengan pukulan mendidik bukan dengan pukulan menyiksa.

Demikian semoga bisa menjadi alternatif solusi bagi orang tua yang kebingungan membangunkan anaknya untuk sholat subuh. Dan semoga Allah limpahkan pahala berlipat untuk penulis buku yang saya kutip ini.

Jangan lupa sebarkan jika dirasa artikel ini bermanfaat agar bisa menjadi amal sholeh kita bersama. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai anak sholeh bagi kedua orang tua kita dan semoga Allah SWT menganugerahkan kita anak yang sholeh dan sholehah. Aamin.

Brebes, Jumat, 12 Romadhon 1437 H / 17 Juni 2016


Mabsus Abu Fatih

Kamis, 16 Juni 2016

Syair Imam Adz-Dzahabi tentang IBU

anak-sholeh.com - Puisi tentang Ibu sering kita baca dan dengar. Di dalam buku-buku puisi sangat mudah kita temui, demikian juga di internet. Namun, kebanyakan puisi tersebut adalah puisi kontemporer. Barangkali ada di antara pembaca yang ingin mengetahui seperti apa puisi atau syair dari orang-orang terdahulu khusunya dari kalangan ulama. Untuk itulah tulisan ini dibuat.

Berikut ini adalah syair tentang Ibu yang ditulis oleh Syamsuddin Muhammad bin Qaimaz At-Turkumani, Al-Fariqi, Ad-Dimasyqi, Asy-Syafii, atau yang lebih sering kita kenal dengan nama Imam Adz-Dzahabi.


Beliau lahir di Damasus pada tahun 1274 M / 673 H dan wafat di Damaskus pada tahun 1348 M / 738 H.[1]Syair ini bisa kita temukan dalam buku beliau Al-Kabair pada bab Uquuqul Walidain[2]. Saya tulis juga versi arabnya untuk bisa dinikmati oleh mereka yang mengetahui bahasa arab. Semoga bisa menambah kecintaan kita terhadap orang tua, khususnya Ibu kita. [Mabsus Abu Fatih]

لأمك حق لو علمت كثير ...كثيرك يا هذا لديه يسير
Bagi ibumu terdapat banyak hak atasmu ... Apa yang banyak menurutmu sesungguhnya sangatlah kecil
فكم ليلة باتت بثقلك تشتكي ...لها من جواها أنة وزفير
Sudah berapa malam ia merasa memberatkanmu .... Dan kamu mengadukan perihalnya dengan rintih dan keluh
وفي الوضع لو تدري عليها مشقة ...فمن غصص منها الفؤاد يطير
Jika kamu tahu betapa berat saat ia melahirkanmu .... Karena berat beban itu hati terasa terbang melayang
وكم غسلت عنك الأذى بيمينها ...وما حجرها إلا لديك سرير
Betapa sering ia menjagamu dari mara bahaya dengan tangan kanannya ... Dan pangkuannya pun menjadi ranjangmu
وتفديك مما تشتكيه بنفسها ...ومن ثديها شرب لديك نمير
Ia mengorbankan jiwanya demi keluhanmu ... Dari susunya keluar minuman suci bagimu
وكم مرة جاعت وأعطتك قوتها ...حناناً وإشفاقا وأنت صغير
Betapa sering kamu menderita kelaparan dan penuh dengan sepenuh tenaga ... Ia memberikan kasih sayangnya kepadamu di waktu kecilmu
فآها لذي عقل ويتبع الهوى ...وآها لأعمى القلب وهو بصير
Kasihan, mengapa orang cerdas mesti menuruti nafsunya ... Kasihan bagi yang buta hati sedangkan matanya melihat
فدونك فارغب في عميم دعائها ...فأنت لما تدعو إليه فقير
Berharaplah kamu terhadap semua doa-doanya ... Karena terhadap apa yang didoakannya kamu membutuhkannya




[1] Lihat buku “Al-Kabair, Galaksi Dosa”, terbitan Darul Falah – Bekasi tahun 2012, hal vii
[2] Imam Adz-Dzahabi, Al-kabair, versi al-Maktabah Asy-Syamilah hal. 15; Imam Adz-Dzahabi, Al-Kabair Galaksi Dosa, (Bekasi:Darul Falah), 2012, hal. 51

Jumat, 10 Juni 2016

Beginilah Rasulullah Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Anak-sholeh.com - Rasulullah saw adalah suri teladan yang baik. Termasuk dalam hal mendidik anak. Termasuk di dalamnya lagi bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri pada anak. Berikut ini adalah empat cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Dalam menumbuhkan kepercayaan diri pada anak. Disarikan dari buku “25 Kiat memengaruhi Jiwa dan Akal Anak” (terjemah dari 25 Thariqah lit Ta’tsir fi Nafsith Thifli wa ‘Aqlihi) terbitan sygma Pusblishing bandung. Sebuah buku yang dikarang oleh Muhammad Rasyid Dimas, lulusan Fakultas Pendidikan dan Psikologi pada Al Imarat University dan Diploma ‘Ali (setingkat master) bidang perencanaan, analisis, dan Perencanaan Sistem pada Al-Imarat University. Berikut keempat cara tersebut:

1. Memperkuat Kemauan Anak

Dalam hal ini, Beliau melakukan dua cara. Pertama, membiasakan menjaga rahasia, seperti yang dialami oleh Anas bin Malik dan Abdullah bin Ja’far. Ketika anak belajar menjaga rahasia dan tidak membocorkannya, kemauannya akan tumbuh dan menguat. Kepercayaan diripun menjadi kuat.
Kedua, membiasakan berpuasa. Ketika anak mampu bertahan dalam keadaan lapar dan haus karena puasa, ia akan merasakan kesenangan mengalahkan hawa nafsunya sehingga menjadi kuatlah kemampuannya dalam menghadapi kehidupan. Para sahabatpun sangat memerhatikan agar anak-anaknya berpuasa. Untuk itulah, mereka menyiapkan mainan saat anak-anak berpuasa agar terhibur dan tidak merasakan panjangnya siang. 

2. Menumbuhkan kepercayaan sosial.

Ketika anak bergaul dengan orang dewasa dan berkumpul dengan teman-teman sebayanya, akan tumbuh rasa kepercayaan sosialnya. Inilah yang ditangkap dari keturutsertaan para sahabat terhadap aktivitas anak-anaknya. anak-anak mereka biasa menghadiri majelis Rasulullah saw. Karena orang tua mereka mengajaknya.

Anas bin Malik r.a mengatakan, “Rasulullah saw. Bergaul dengan kami hingga ia mengatakan kepada adik kami, “Hai Aba Umair, sedang apa burung kecil itu?’ Kami menggelar tikar, lalu beliau shalat dan membariskan kami di belakangnya. “ (HR. Ahmad)

Dengan membawa anak ke majelis orang dewasa akan menjadikan anak sedikit demi sedikit mengenal pembicaraan orang dewasa sehingga ia siap untuk berkecimung di tengah masyarakat nantinya.

Menumbuhkan kepercayaan sosial juga bisa dilakukan dengan cara membiasakan bersalam.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda, Hendaklah orang yang naik kendaraan mengucap salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak.
Dalam riwayat Bukhari, hadits tersebut mendapatkan tambahan “Yang kecil kepda yang tua

Untuk menumbuhkan kepercayaan sosial bisa juga dilakukan dengan cara mengutus anak untuk keperluan rumah tangga atau untuk memenuhi keperluan orang tua. Dengan cara ini, ia akan mengenal liku-liku kehidupan, merasa gembira dengan bertambahnya wawasa. Akan muncul pula kepercayaan diri dalam menghadapi persoalan hidup, sesuatu yang membuatnya mampu mengarungi kehidupan ini dengan langkah-langkah yang mantap, fokus dan tanpa guncangan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Tsabit Al Bannai dari Anas bin Malik r.a yang berkata, “Aku melayani Rasulullah saw. Pada suatu hari sampai aku menyelesaikan tugasku. Rasulullah saw. Kemudian tidur siang dan aku keluar menemui anak-anak. Aku melihat permainan mereka. Maka, datanglah Rasulullah saw. Seraya mengucapakan salam kepada anak-anbak yang sedang bermain. Kemudian, beliau memanggilkuj dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Maka, aku pun pergi untuk keperluan itu, sedangkah Rasulullah saw. duduk di bawah bayang-bayang hingga aku kembali. Aku terlambat datang menemui ibuku. Ketika aku dantangkepada ibuku, ia bertanya, “Apa yang membuatmu terlambat datang?”
Aku menjawab, “Rasulullah saw. Mengutusku untuk satu keperluan.”
Ia berkata, “Apa keperluannya?”
Aku menjawab, “Itu rahasia Rasulullah saw.”
Ia berkata, “Kalau begitu, jagalah rahasia Rasulullah saw.”

Kehadiran anak-anak pada perayaan-perayaan yang disyariatkan, upacara pernikahan, dan menginap di rumah kerabat yang saleh juga termasuk hal yang baik. Karena akan membuat keceriaan pada jiwa anak-anak, melatih mereka untuk berinteraksi dengan orang lain, dan mendukung terciptanya hubungan sosial yang baik dengan masyarakatnya.

3. Menumbuhkan kepercayaan Ilmiah.

Hal ini bisa dicapai dengan cara mengajarinya Al-Qur’an, sunah, dan Shirah Rasululah saw. Yang agung. Kelak, anak akan tumbuh dengan membawa ilmu yang luas dan tumbuh pula kepercayaan ilmiah dalam dirinya.

Baik juga apabila anak dimotivasi untuk menghafal dengan pemberian hadiah.

4. Menumbuhkan kepercayaan Ekonomi dan Bisnis

Hal ini dapat diwujukdn dengan membiasakan anak berjual beli, berjalan di pasar dengan disertai orangtuanya untuk memenuhi keperluan mereka.
Rasulullah saw. Menyaksikan si kecil Abdullah bin ja’far sedang bermain dagang-danganan, lalu mendoakan, “Ya Allah, curahkanlah barakah dalam perdagangannya.”

Begitulah Rasulullah menumbuhkan kepercayaan diri pada anak. Semoga bisa menjadi panduan bagi kita, orang tua dalam menumbuhkan kepercayaan diri pada anak-anak kita.

Jika merasa tulisan ini bagus, silahkan bagikan kepada pembaca yang lain. Semoga menjadi amal sholeh kita semua. Allahua’lam bishowab.  

Tangerang - Banten,
Jumat Mubarok, 05 Romadhon 1437 h / 10 Juni 2016

Mabsus Abu Fatih

Rabu, 08 Juni 2016

Inilah Balasan Untuk Orang Tua yang Membuat Senang Anaknya

anak-sholeh.com - Membuat gembira dan riang hati anak sangatlah baik bagi perkembangan mental anak. Kegembiraan juga memberikan peran yang sangat menakjubkan dan berpengaruh kuat terhadap jiwa anak. hasilnya, sang anak akan selalu siap untuk menerima perintah, peringatan atau bimbingan apapun.

Lebih dari itu, bagi orang tua yang membuat senang anaknya, maka Allah akan membuatnya (orang tua) senang pada hari kiamat. hal ini sebagaimana tersebut dalam riwayat berikut :

Ibnu asakir meriwayatkan dari Watsilah bin Al Aqsa’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamkeluar menemui Utsman bin Mazh’un yang tengah membawa anak kecil yang dibalut. “Ini anakmu, Utsman?” tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Ya, benar,” jawabnya.
“Kamu mencintainya?” tanya Rasulullah lagi.
“Tentu saja, ya Rasulullah,” jawabnya.
“Sesungguhnya, barang siapa membuat senang anak kecil dari keturunannya hingga ia puas, maka Allah akan membuatnya senang pada hari Kiamat,” kata Rasulullah saw (Al- Jami’ush Shagir) 

Mabsus Abu Fatih

Kamis, 02 Juni 2016

6 Hal yang Membuat Orang Tua Enggan Menerapkan Disiplin

Disiplin merupakan salah satu kunci keberhasilan. Orang yang memiliki disiplin tinggi memiliki peluang Sukses lebih besar dibandingkan dengan orang yang berdisiplin rendah. Tidak heran jika kebanyakan orang tua mengharapkan anak-anaknya menjadi Pribadi yang disiplin. Namun, mendisiplinkan anak bukanlah pekerjaan mudah. Tidak sedikit orang tua yang gagal dalam mendisiplinkan anak. Bahkan ada di antara mereka yang merasa enggan dalam mendisiplinkan anak.

Muhammad Rasyid Dimas dalam bukunya, "20 Kesalahan dalam mendidik Anak "menyebutkan ada enam hal yang bisa membuat orang tua enggan dalam menerapkan disiplin kepada anak-anak mereka, yaitu:

  1. Orang tua berputus asa dan kehilangan harapan dalam mengubah perilaku anak;
  2. Orang tua tidak mampu menentang perilaku buruk anak karena takut kehilangan cinta.
  3. Lemahnya tekad, vitalitas, dan kemampuan orang tua yang diakibatkan oleh suatu penyakit yang membuat mereka jauh dari situasi dan kehidupan anak-anak.
  4. Orang tua menahan diri dari melakukan counter terhadap perilaku buruk anak karena si anak suka marah dan bersikap reaktif,
  5. Terjadi ketidak-kompakan antara kedua orang tua tentang tujuan pendidikan
  6. Orang tua sibuk dengan masalah antaramereka sendiri sehingga pengawasan terhadap perilaku anak luput. [1] 

Lantas, bagaimana solusinya atas keenam hal tersebut? Jika dibolehkan untuk memberikan jawaban, solusi yang saya tawarkan adalah sbb:
  1. Orang tua harus memiliki tekad dan motivasi yang kuat. Jika orang tua lemah maka bisa berakibat fatal di kemudian hari, bahkan di akherat kelak. Jika anak tidak disiplin akan berpotensi mengalami kegagalan di masa mendatang. Anak yang tidak disiplin dalam belajar misalnya, tentu akan tertinggal dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki kedisiplinan tinggi. Atau yang tidak disiplin dalam beribadah tentuk akan kehilangan peluang dalam beribadah kepada Allah SWT.
  2. Memang terkadang tindak disiplin orang tua akan ditentang oleh anak-anaknya. Namun, seiring dengan perkembangan kedewasaan, sang anak akan memahami kenapa dulu orang tua mereka begitu ketat dalam mendisiplinkan anak. Di sisi lain, mendisiplinkan anak juga merupakan bentuk kasih sayang terhadap anak. Karena disiplin akan membawa kepada kebaikan.
  3. Perilaku anak yang suka marah dan bersikap reaktif, boleh jadi merupakan hasil dari didikan anak dimasa yang lalu. Hal ini semestinya menjadi pelecut bagi orang tua untuk mendisiplinkan anak sejak usia dini agar di kemudian hari sang anak memiliki Pribadi yang mudah diatur. Kalaupun sudah terlanjur, insya Allah upaya yang terus menerus disertai dengan kesabaran dan kasih sayang yang tinggi akan memberikan hasil.
  4. Perlu ada penyatuan kembali visi dan misi keluarga. Suami istri perlu kiranya duduk berdua untuk membincang ulang tentang arah perjalan rumah tangga kedepannya. Target keluarga harus dikaji ulang. Baik target jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Termasuk di dalamnya hal mendisiplinkan anak. Harapannya dengan penyamaan visi dan misi ini, keluarga akan memiliki panduan yang lebih terarah. Di antaranya dalam mendidikan anak.
  5. Perlu dievaluasi juga berkaitan dengan jadwal kegiatan suami istri. Mana yang masuk kategori wajib dan perlu dan mana yang masuk kategori biasa atau mubah saja. Bagi sepasang suami istri yang semuanya bekerja. Bisa jadi sang istri fokus dalam urusan rumah tangga adalah pilihan yang terbaik. Meski terkadang sangat sulit untuk dilakukan. Berdasarkan pengalaman pribadi, ketika memutuskan agar istri untuk berhenti bekerja, ada sedikit goncangan dalam hal ekonomi. Namun, pelan tapi pasti isa menyesuaikan diri. Apalagi jika ditimbang dari sisi agama, bahwa bekerja bagi seorang istri tidaklah wajib, sementara menyelematkan anak dari kerusakan adalah wajib. Insya Allah, niatan yang mulia akan dimudahkan oleh Allah SWT.

Ini beberapa pandangan pribadi penulis. Barangkali ada manfaatnya. Barangkali pembaca memiliki solusi lain yang lebih berkualitas. Silahkan ditulis dalam komentar. Allahua’lam bishowab. [] Mabsus Abu Fatih 

_____________________________________________
[1] Muhammad Rasyid Dimas, 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak, (Bandung: Sygma Publishing), 2008. Hal. 14

sumber gambar : netweaveonline.com