Rabu, 20 September 2017

Semut Apa yang Badannya Kecil, Kepalanya Gede

humor keluarga
Keluarga memiliki beberapa fungsi yang semestinya berjalan. Ada fungsi ekonomi, tempat anggota keluarga memenuhi keburuhan ekonominya. Ada fungsi religi dimana keluarga bisa mendorong anggota keluarganya menjalankan kewajiban agamanya. Ada fungsi sosial di mana anggota keluarga bisa memiliki status sosial yang jelas di masyarkat. Fungsi afektif dimana angggota keluaga bisa mendapatkan perlindungan di dalamnya. Dan juga fungsi rekreatif, dimana keluarga bisa menjadi menjadi tempat hiburan bagi tiap anggota keluarganya. Bila fungsi rekreatif ini berjalan berjalan, maka anak akan merasa betah tinggal di rumah,  Istri maupun suami juga merasa nyaman tinggal di rumah. 

Jika salah satu di antara fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan, maka keretakan bahkan kehancuran rumah tangga bisa terjadi di ujung mata.

Berbicara mengenai fungsi rekreatif, agar dalam keluarga fungsi ini bisa berjalan tidak harus mengeluarkan biaya yang banyak. Dengan tetap tinggal di rumah, tanpa pergi ke tempat wisata, asal kreatif orang tua bisa berperan memberikan hiburan bagi anak-anaknya.

Sudah masyhur kiranya bahwa Rosulullah Muhammad SAW yang pernah melakukan lomba lari dengan istrinya. Rosulullah SAW juga pernah bermain kuda-kudaan dengan cucu beliau.

Bahkan Rosulullah SAW ternyata pernah bersenandung / bersyair saat bersama dengan istrinya. Aisyah r.a meriwayatkan, “Seorang bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Nabi SAW. Pernah melantunkan sebuah syair?’ “Aisyah menjawab, ‘Beliau pernah melantunkan syair Ibnu Rawahah yang berbunyi, [Waya’tika bil akhbaari man lam tuzawwid] artinya, “Dan akan datang kepadamu orang membawa kabar tanpa engkau beri ia bekal” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Bukhari, Ibnu Sa’d, dan Thabrani)

Ini adalah teladan agung dari keluarga agung Rosulullah. Betapa memberikan hiburan bagi anggota keluarga merupakan kebutuhan, bahkan untuk mewujudkannya ternyata tidaklah harus dengan yang biaya yang mahal.

Beberapa cara bisa kita pilih untuk memberikan hiburan kepada anak-anak. Mulai dari mengajak bermain layang-layang. Bermain bola di lapangan umum, bersepeda keliling lapangan atau jika ingin tidak keluar rumah, bisa dengan cara membacakan cerita inspiratif, bermain karambol, bersenda gurau dengan permainan atau bermain tebak-tebakan bisa dipilih sebagai sarana hiburan yang murah tapi efektif mendekatkan hubungan anak dengan orang tuanya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, bermain tebak-tebakkan sangat efektif mendekatkan antar anggota keluarga. Baik antara orang tua dengan anak maupun anak yang satu dengan anak yang lainnya. Sekedar berbagi, pada satu kesempatan, di saat berkumpul dengan anak sembari menikmati makanan kecil, saya pernah mengajak anak main tebak-tebakan.

“Telor apa yang diinjak tidak pecah?” saya memberikan pertanyaan.
Kedua anak saya pun berlomba menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang menjawab “Telor plastik”. Ada yang menjawab, “Telor ajaib”. Namun, jawaban mereka kemudian saya mentahkan. Begitu saya jawab, ‘Telor yang yang diinjak tidak pecah adalah Telor Toar” Anak-anak langsung protes tanda tidak setuju. Meski tidak setutuh, suasana menjadi cair dan akrab dengan wasilah  tebak-tebakan tersebut. Pada kesempatan lainnya, rupanya anak saya ingin membalas “Dendam”.

Saat kembali berkumpul bersama, anak saya gantian memberikan pertanyaan “Bi (Ayah), Semut apa yang badannya kecil, tapi kepalanya gede”. Saya coba jawab, namun ternyata disalahkan oleh anak saya. Setelah menyerah, akhirnya anak saya menjawab, “Semut keselek jengkol”. Gelak tawapun pecah, menghangatkan suasana keluarga. Meski tidak terbayang seperti apa semut makan jengkol hingga bisa keselek, namun namanya tebak-tebakkan akhirnya diterima jawaban tersebut dengan legowo. Skor pun berubah 1-1.

Begini cara saya menghangatkan suasana keluarga. Lantas bagaimana cara keluarga anak menjalankan fungsi rekreatifnya? Semoga lebih keren dan kreatif lagi.
Allahua'lam

Mabsus Abu fatih

Jumat, 15 September 2017

PSSI = Persatuan Sepakbola Sentimen Islam ?

PSSI logo
Jika #PSSI tetap tidak mencabut sanksi untuk #PERSIB #Bobotoh #Bandung maka layak kiranya PSSI diartikan sebagai "Persatuan #SepakBola Sentimen Islam". Kenapa demikian? Karena Aksi Pray for Paris yang korbannya bukan umat Islam dibiarkan sedangkan Aksi #SaveRohingya yang korbannya umat #Islam dipersoalkan.

Bukankah katanya krisis #rohingya merupakan krisis #kemanusiaan ? Apakah Rohingya bukan manusia? Dimana rasa kemanusiaan PSSI? Ataukah PSSI telah menganggap Rohingya urusan umat Islam semata yang tidak perlu diberikan perhatian dengan kata lain PSSI telah sentimen terhadap Islam itu sendiri?

Untuk umat Islam, mari dukung Persib Bandung membayar sanksi dzalim PSSI #KoinUntukPSSI
.
Mabsus Abu Fatih

Selasa, 12 September 2017

Download Kitab At-Tibyan Imam Nawawi (Arab & Terjemah)

Download Tibyan
Imam Nawawi tidak diragukan lagi kapasitasnya sebagai ulama yang luas ilmunya. Selain Riyadush Shoolihin, al-Adzkaar, Syarh Shahih Muslim, Arbaun Nawawiyah dan kitab-kitab lainnya, kitab At-Tibyan Fiy Aadaabi Hamlatil Qur’an merupakan salah salah satu kitab terkenal yang dikarang oleh Imam Nawawi Rohimahullah (631 – 672 H).

Kitab at-Tibyan ini berisi tentang adab-adab yang harus dipenuhi oleh seorang muslim terhadap kitab sucinya, al-Qur’anul Karim dan hal-hal berkaitan dengannya. 
Bagi yang membutuhkan kitab tersebut, berikut ini link untuk untuk mengunduhnya, silahkan klik tautan berikut :


At-Tibyan (Bahasa Arab) via 4shared
Download At-Tibyan (Bahasa Arab)

At-Tibyan (Terjemah Bahasa Indonesia) via 4shared

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuh.
Mabsus Abu Fatih

Jeritan Hati Seorang Dokter Malang

Kisah nyata tangisan dokter
Memiliki pasangan hidup melalui pernikahan yang sah merupakan sebuah kebahagiaan. Kenapa? Karena dengan menikah seseorang telah terpenuhi nalurinya untuk mendapatkan pasangan hidup dan bisa mendapatkan keturunan. Sebaliknya, ketiadaan pasangan hidup bisa mendatangkan kegelisahan dan nestapa. Apalagi jika usia kian bertambah, namun dengan siapa akan menikah belum juga diketahui. Jadi jelas, menikah merupakan sebuah nikmat yang semestinya kita syukuri.

Namun sayangnya, tidak sedikit pasangan suami istri yang melupakan nikmat ini. Mereka lebih melihat pada kekurangan pasangan masing-masing, sehingga kebahagiaan yang semestinya  mereka raih hilang entah kemana.  Padahal di luar sana, banyak yang memiliki kemapanan ekonomi, status sosial yang tinggi, dihormati masyarakat seakan tidak ada artinya ketika belum memiliki pasangan hidup. Mereka menjerit, merintih dan menangis menantikan pasangan hidup yang tidak kunjung tiba.

satu diantara sekian banyak orang tersebut adalah seorang dokter perempuan malang yang tidak disebutkan namanya. Sang dokter perempuan tersebut menumpahkan jeritan isi hatinya dalam sebuah tulisan. Tulisan sang dokter tersebut kemudian dikutip dalam sebuah buku “The Way to Hapinnes”. Buku yang ditulis oleh Dr. Naseer Al-Omar dan Syaikh Abdul-Rahman Al-Sa’adi tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Wadi Press dengan Judul, “Jalan Menuju Kebahagiaan”. Cerita tersebut ada pada halaman 43-44. Saya kutip utuh untuk dijadikan nasehat dan pengingat bahwa memiliki pasangan hidup merupakan sebuah kebahagiaan yang semestinya kita syukuri.

Seorang DOKTER PEREMPUAN menangis sembari mengeluh, “Bawa ijazah saya dan carikan saya seorang suami.” Mari kita lihat tulisan dokter yang malang ini.

Setiap jam 07.00 pagi, saya selalu meneteskan air mata di balik punggung sopir pribadi saya, yang mengantar saya ke “penjara” atau “liang kubur” klinik tempat saya bekerja.” Dia melanjutkan keluh-kesahnya, “Setiap kali saya sampai di tempat tujuan, saya mendapati banyak perempuan dan anak-anak yang telah menanti kehadiran saya. Mereka memandang saya dengan penuh hormat dan menganggap jas putih saya bagaikan sehelai baju mewah yang terbuat dari sutera Persia, sedangkan saya menganggapnya pakaian berkabung. Dan setiap kali saya sampai di ruang kerja, kemudian mengalungkan stetoskop ke leher, saya merasa seperti mengalungkan tambang ke batang leher seperti orang yang mau dihukum gantung. Kini saya telah berumur 30-an tahun dan saya merasa sangat pesimis dengan masa depan saya.” Tangisnya pun meledak! “Bawa ijazah saya, jas putih saya, dan uang saya; saya ingin dipanggil dengan sebutan “MAMA”.

Kemudian ia menulis beberapa baris kalimat untuk menggambarkan perasaan hatinya yang paling dalam, “Orang-orang memanggil saya Dokter. Tapi, manfaat apa yang saya dapatkan dari panggilan seperti itu? Oleh karena itu, sampaikan kepada orang-orang yang menjadikan saya sebagai teladan, bahwa sekarang saya adalah orang yang perlu dikasihani. Yang selalu saya inginkan dan harapkan adalah memiliki anak kandung yang dapat dipeluk dan dibelai setiap waktu. Tapi, apakah itu semua dapat dibeli dengan uang?” [ selesai ]

Semoga membaca kisah tersebut membuat kita lebih bersyukur telah memiliki pasangan hidup. Apalagi jika Allah tambahkan kenikmatan tersebut dengan hadirnya buat hati yang memanggil kita dengan sebutan Ayah atau Ibu. Alhamdulillah


Selasa, 12 September 2017

Mabsus Abu Fatih


Minggu, 10 September 2017

Bersabar Dan Istiqomahlah Karena Penghambat Dakwah Ada Masanya

Sabar Istiqomah
Jika merasa dakwah menjadi sulit karena dibelenggu dengan aturan-aturan represif. Maka bersabar dan Istiqomahlah. Karena halangan itu ada masanya yang akan berakhir pada waktunya.

Lihatlah Libya. Dakwah diperangi di sana. Penggembannya disiksa dengan kejam. Mereka bersabar dan Istiqomah. Hasilnya dakwah terus berjalan hingga sekarang. Sementara Qadafi mati terhina bersimbah comberan.

Lihat pula dengan si bengis Karimov. Pengemban dakwah dibantai dan dihabisi di sana. Tapi Allah ganti dengan yang lebih banyak dan lebih hebat lagi. Sementara Karimov menjadi bangkai karena stroke dan pendarahan otak. Jahannampun siap menyambut jasad sang terkutuk.

Dan lihat pula para diktator di berbagai penjuru dunia yang memerangi dakwah. Dakwah tetap berjalan, sementara sebagian rezim sudah menemui ajal, sebagian lain sedang dan akan menemui ajal.

Halangan dakwah pasti akan berhenti karena dua hal.

Pertama, mereka - para penghalang dakwah - adalah manusia yang terbatas usianya. Kedua, Allah SWT sudah menjanjikan melalui lisan mulia RosuluLlah bahwa kekuasaan Islam akan meliputi seluruh penjuru bumi sebagaimana  sampainya matahari ke ufuk timur dan baratnya. 

Dalam hadits riwayat Muslim RosuluLlah SaW menyebutkan, "Innalloha zawaliyal Ardho, faroaitu masyariqohaa wa manghoribahaa. Fainna ummati sayablughu mulkuha ma zuwiya Li minha"
(Sungguh Allah SWT telah menampakkan bumi di hadapanku. Dan aku bisa melihat ufuk timur dan baratnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai pada apa yang Allah SWT perlihatkan kepadaku).

Maka bersabar dan Istiqomahlah dalam dakwah. Karena penghalang dakwah ada ajalnya dan karena kemenangan dan kejayaan Islam pasti terjadi. 

Allahua'lam.

Mabsus Abu Fatih