Rabu, 02 Januari 2019

Membantu Korban Bencana = Membantu Diri Sendiri

Membantu korban bencana membutuhkan waktu, tenaga dan perhatian yang tidak mudah. Makanya tidak semua orang tergerak membantu meringankan mereka yang terkena musibah. Padahal, membantu mereka yang terkena musibah bencana sama saja menolong diri kita sendiri. 

Pertama. Dengan mengumpulkan dana (shodaqoh atau infaq) dari kaum muslimin bisa meredam murka Allah SWT (sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis), sehingga musibah yang lebih besar dimungkinkan tidak terjadi dan tidak menimpa diri kita.


Kedua. Dengan membantu mereka yang tertimpa musibah, kita akan mendapatkan doa-doa tulus dari mereka yang terbantukan. Dan doa itu untuk kita yang telah membantu mereka.

Ketiga. Membantu korban musibah akan menjadi amal Sholeh yang kita butuhkan sebagai bekal di akhirat kelak. Abu Bakar ash-Shidiq menyampaikan bahwa Siapa yang masuk ke dalam kubur tanpa membawa bekal, laksana mengarungi lautan tanpa menggunakan perahu (Nashoihul 'Ibad)

Keempat. Dengan kita membantu kesulitan orang lain, maka di kemudian hari saat kita di timpa kesulitan, akan dimudahkan oleh Allah SWT. Saya pribadi pernah mengalami kesedihan saat tidak mampu membeli sepeda yang diminta anak. Alhamdulillah meski tidak saya ceritakan kesedihan tersebut kepada orang lain, ada yang membelikan sepeda tersebut secara cuma-cuma. Siapa yang membelikannya? Orang yang pernah saya bantu urusan pribadinya. 

Kelima. Dengan membantu korban musibah, kita bisa menyelamatkan Aqidah mereka. Sudah dimaklumi bersama, saat bencana tiba, ada upaya Pemalingan akidah korban bencana dengan mengiming-imingi mereka dengan sembako dan bantuan. Ketiadaan relawan muslim dalam kondisi seperti ini, bisa menggoyahkan Aqidah Sohibul musibah. Mereka merasa sendiri dalam menghadapi musibah. Sementara dari agama lain begitu "perhatian" terhadap mereka. Maka, tidak berlebihan kiranya jika membantu korban bencana bagian dari menolong agama Allah. Dan balasan dari menolong agama Allah SWT adalah Allah akan meneguhkan kedudukan kita. Ya, diri kita sendiri.

Keenam. Setiap muslim harus berupaya menjaga diri kita dari api neraka. Yang mana menurut hadis Riwayat Bukhori Muslim, siksa yang paling ringan adalah dipakaikan sandal dari bara api neraka, hingga otaknya mendidih. Dan penjagaan diri dari api neraka, bisa kita lakukan dengan memperbanyak amal Sholeh. Membantu korban bencana misalnya.

Ketujuh. Memperbanyak amal Sholeh, akan bisa kita gunakan sebagai tawassul kepada Allah agar dimudahkan urusan kita.

Jadi, membantu mereka yang ditimpa musibah sejati adalah membantu diri kita sendiri.

Mabsus Abu Fatih 

Dalil-dalil yang saya maksud dalam tulisan di atas, insyaAllah sudah maklum semua. Sehingga tidak saya cantumkan.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar