Dosa Apakah yang Diampuni dengan Puasa Arofah?

ALHAMDULILLÂH atas nikmat panjang umur yang diberikan Allâh Subhanahu Wa Ta’âlâ sehingga kita bisa bertemu dengan Hari Raya Idul Adha tahun ini. Kebahagian Idul Adha tentu dirasakan berkali lipat oleh saudara-saudara kita yang merayakannya di tanah suci bersamaan dengan pelaksanaan ibadah mulia nan agung, Ibadah Haji. Semoga kita yang belum bisa merasakan nikmatnya Idul Adha bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji_termasuk penulis, bisa melaksanakannya di tahun-tahun mendatang. Âmîn yâ robbal ‘âlamîn.
Bagi  kita yang tidak atau belum bisa melaksanakan Ibadah Haji, punya kesempatan untuk menambah amal sholeh dengan melaksanakan Ibadah Kurban. Disamping itu juga bisa dengan melaksanakan Puasa Arafah, puasa pada hari kesembilan bulan Dzulhijjah yang bertepatan dengan pelaksaan wukuf di arofah. 

Banyak hadits yang menerangkan mengenai keutamaan Puasa Arofah ini. Kiranya cukuplah satu hadits berikut mewakilinya:
مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُ سَنَتَيْنِ مُتَتابِعَتَيْنِ
Barangsiapa yang berpuasa pada hari Arafah maka akan diampuni dosanya dua tahun berturut-turut.(HR. at-Thabari dalam kitab al-Mu’jam al-kabir [6/5923], Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ya’la). Al-Haitsami berkata: para perawi Abu Ya’la adalah orang-orang yang shahih.[1]
Ada keterangan menarik yang saya dapatkan dalam Fathul Mu’în terkait dosa apa yang diampuni selama dua tahun tersebut. Menurut pengarang kitab Fathul Mu’în, yaitu Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari al-Fannani rahimahullah, dosa-dosa yang diampuni dengan Puasa Arofah ternyata adalah dosa-dosa kecil yang tidak terkait dengan hak-hak anak adam!
Disebutkan pada pembahasan Fashlun fiy Shoumi at-tathowwu’i (Pasal Puasa Sunah) :
وَالُمكَفَّرُ: الصَّغَائِرُ الَّتِيْ لَا تَتَعَلَّقُ بِحَقِّ الآدَمِيِّ، إِذِ الْكَبَائِرُ لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا التَّوْبَةُ الْصَّحِيْحَةُ. وَحُقُوقُ الآدَمِيُّ مُتَوَقِّفَةٌ عَلٰى رِضَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ صَغَائِرُ زِيْدَ فِي حَسَنَاتِهِ.
Dosa yang dikifarati (Puasa Arofah), ialah dosa-dosa kecil yang tidak berkaitan dengan hak Adamy (tidak bersangkutan dengan manusia), sebab dosa besar itu tidak dapat dikifarati kecuali dengan tobat yang sesunggguhnya; dan hak Adamy tobatnya tawaqquf (ditangguhkan) kepada ridanya. Jika seseorang tidak mempunyai dosa kecil, maka akan ditambah amal baiknya.[2]
Tentu, keterangan tersebut tidak lantas mengurangi semangat kita dalam menjalankan Puasa Arofah karena “hanya” bisa menebus dosa kecil semata. Tidak demikian. Justru keterangan ini memberikan dorongan kepada kita untuk lebih berhati-hati dengan dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak Adamy, seperti mencuri, korupsi atau karena dosa pelanggaran hak-hak manusia lainnya, karena tidak dihapus dengan “sekedar” puasa. Juga memberikan dorongan kepada kita, ketika terlanjur melaksankan dosa-dosa terkait hak-hak manusia, tidak perlu malu atau sungkan untuk meminta maaf, karena dengan permintaan maaf itu dosa kita terkait hak adamy bisa diampuni. Keterangan ini juga semestinya memberikan dorongan bagi kita untuk senantiasa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan taubatan yang shahih. Karena dengan taubatan shahihah inilah, yang akan menghapus dosa-dosa besar kita. Allâhua’lam bishowwâb.
Sebagai penutup tulisan, sekaligus melaksanakan nasihat ulama pengarang Fathul Mu’in tersebut di atas, mohon kiranya pembaca berkenan membukakan pintu maaf atas segala khilaf dan dosa penulis. Dan semoga Puasa Arofah yang kemarin kita laksanakan diterima di sisi Allâh Subhanahu Wa Ta’âlâ. Semoga pula kita termasuk orang-orang yang gemar bertaubat. Âmîn Yâ Robbal ‘Âlamîn. Selamat Hari Raya Iedul Adha 1436 H.
Tangerang – Banten, 10 Dzulhijjah 1436 H
Al-Faqîr Ila-Llâh wa Syafâ’atirrosûlihi,
Mabsus Abu Fatih

No comments:

Post a Comment

Terima kasih berkenan komentar