16 Juli 2019

Tempat Mustajab dalam Berdoa menurut Syaikh Mutawalli Sya'rawi

Syaikh Muhammad Mutawalli Syarawi
Syaikh Muhammad Mutawalli Sya'rawi Rahimahullah adalah seorang ulama dan penulis yang produktif. Banyak buku yang beliau karang dan diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Salah satu buku beliau adalah ad-Du'a Al-Mustajab. Dalam edisi bahasa Indonesia diterjemahkan "Doa Yang dikabulkan". Buku ini sangat bagus dan beruntung sekali saya mendapatkan buku ini dari seorang Netizen yang menjual buku-buku bekas. Dijual dengan harga 5.000 atau 10.000 saya lupa. Dengan ukuran sebesar buku Yasin dan dengan jumlah 148 hal, memang harga bekasnya tak lebih dari 10.000. Namun jika dilihat dari isi dan kwalitas penulisnya, harga 10.000 jelas sangatlah murah. 
Buku krangan ulama yang wafat pada 17 Juni 1998 tersebut membahasa 6 fasal pembahasan. 

Fasal Kesatu : Yang dimaksud dengan doa, doa dengan kebaikan dan keburuka , waktu doa dan doa intinya ibadah 

Fasal Kedua : Doa dalam Al-Qur'an, doa dunia, doa dan kelemahan, taubat untuk menghapus doa

Fasal Ketiga : Doa Malaikat dan para Nabi, Doa Rasul dan Nabi, doa Nabi Ibrahim, Ibadah dan empat puluh tahu. Antara doa dan Ijabah

Fasal Keempat:
Doa Rasulullah, doa sebelum dan sesudah tidur, dari Allah dan kepada Allah, hubungan dengan Allah tidak pernah berhenti, tuannya Istighfar, aktivitas dan kondisi kehidupan, setiap situasi doanya, Rahmat, barokah dan keridhoaan

Fasal Kelima:
Saat-saat dikabulkan doa, harta haram, doa orang berpuasa, tempat dan saat terpilih, doa dan tingkatannya yang tertinggi, kecerdikan orang yang beriman

Fasal keeenam :
Mendoakan keburukan, doa yang dianiaya, doa dan takdir, qodlo dan doa, tidak ada sesuatu yang tidak diketahui Allah, Syafaat pada hari kiamat.

Salah satu bahasan menarik saya temukan misalnya pada hal. 107 disebutkan bahwa tempat-tempat semisal Ka'bah atau masjid Nabawi maupun di London pada hakekatnya sama dari sisi Allah ada di setiap tempat. Yang membedakan adalah dekat dan jauhnya hamba dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yang menjadi sebab pengkabulan doa adalah kedekatan dengan Allah SWT.

Ketika kita berdoa di Masjidil Harom misalnya, gambaran duniawi tidak tampak dalam benak kita, yang ada hanya dzikrullah, mendekatkan diri kepada Allah dan menyucikan Allah. Dalam nuansa itulah keadaan kita yang paling dekat kepada Allah dan paling banyak kemungkinan dikabulkan doa kita.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa rahasia terkabulnya doa adalah ketaatan dan kedekatan kita dengan Allah SWT. Untuk  doa meminta urusan yang sangat besar tidak perlu menunggu hadir ke Baitullah - meski itu tetap harus kita programkan. Berdoalah di mana saja dan kapan saja. Yang terpenting adalah dekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Karena itulah rahasia utamanya.

Selamat mengawali pagi dengan kebaikan.


Mabsus Abu Fatih

Share:

5 Juli 2019

Menyikapi Wanita Non Muslim Masuk Masjid Membawa Anjing

Wanita Non Muslim Membawa Anjing ke Masjid
Video seorang wanita non Muslim membawa anjing ke dalam masjid menjadi viral di dunia Maya. Pada video tersebut nampak sang wanita sengaja membawa anjing masuk ke dalam masjid. Saat ditegur oleh seorang pria yang kemungkinannya adalah pengurus masjid, sang wanita malah marah-marah. Bukan hanya itu sang wanita pun enggan melepaskan alas kaki di dalam masjid.

Kejadian tersebut sontak membuat kaum muslimin marah. Karena dianggap melecehkan atau setidaknya tidak menghormati masjid yang seharusbya dimuliakan atau minimal dihormati. Bahkan Artis Deddy Corbuzier pun angkat bicara menanggapi hal ini. Dalam kanal YouTubenya Deddy Corbuzier yang belum lama masuk Islam menyatakan bangga dengan sikap umat Islam atas peristiwa tersebut. Kenapa? Karena sang anjing tidak dipukul atau dianiaya saat mengusir anjing dari dalam masjid. Hanya ucapan huss... Huss... Untuk mengusir sang anjing. Karena menurutnya umat Islam tahu yang salah bukannya sang anjing melainkan sang wanita.

Berbeda dengan Deddy Corbuzier, ada dari komponen umat yang justru menyalahkan sikap sebagian kaum muslimin dan pengurus masjid atas sikapnya tersebut. Namun anehnya mereka yang menyalahkan dan seolah membela atau memaklumi insiden tersebut lebih fokus menyoroti dari sisi anjingnya semata.
Perdebatan akan peristiwa tersebut banyak terjadi di sosial Media. Saya sendiri ikut terlibat di dalamnya. Boleh jadi, pembaca juga ada yang ikut terlibat pada perdebatan tersebut.

Untuk mengakhiri perdebatan tersebut, saya ingin mengajak pembaca berlogika sederhana. Coba kita bayangkan jika tiba-tiba ada seorang wanita masuk ke dalam rumah kita, sepatu yang dikenakan pun tidak dilepas, sambil teriak-teriak pula. Pada saat yang sama sang wanita membawa karung yang berisi sampah dan meletakan seenaknya saja di ruang tamu kita. Saat diminta keluar dan membawa keluar sampahnya, dia malah muter-muter di dalam rumah kita sambil terus teriak-teriak.

Atas kejadian tersebut, kemudian tada yang komentar membela atas sikap sang pemilik rumah. Katanya tidak semua sampah itu buruk. Sampah juga ada di hotel bahkan Istana negara. Sampah bisa didaur ulang dan alasan-alasan lainnya.

Seperti itulah orang yang sibuk cari dalil menyalahkan pihak masjid / menyalahkan netizen dan memaklumi peristiwa wanita non muslim beralas sepatu memasuki masjid sambil membawa anjing. Mereka yang membela sibuk mencari dalil ketidaknajisan anjing, perselisihan ulama atas anjing, foto anjing di Makkah, dlsb. Dikira cerdas, padahal tidak nyambung. Lah wong yang disoal wanita yang marah-marah di masjid, tidak lepas alas kaki dan bawa anjing, malah cari dalil anjing semata. Itupun yang diperselisihkan. Sementara sang Ibu yang tdk beralas kaki dan teriak di masjid tidak disinggung. Jelas pembelaan yang salah fokus dan salah sasaran.

Semoga tulisan ini mengakhiri diskusi masalah wanita Non Muslim yang membawa anjing ke dalam masjid. Setidaknya untuk saya pribadi.

Semoga kita termasuk orang-orang cinta kepada Islam dan cinta terhadap simbol Islam semisal masjid.

Tangerang - Banten, 05 Juli 2019

Mabsus Abu Fatih



Share:
CARI ARTIKEL

Populer Bulan Ini

Newsletter